Rabu, 10 Desember 2014

Zhao Xiao Merebut Maut



Cerita Budi Pekerti

Zhao Xiao Merebut Maut

Pada masa Dinasti Han, tersebutlah seorang yang bernama Zhao Xiao, nama kehormatannya adalah Chang Ping. Dia memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Zhao Li, jalinan persaudaraan mereka sangat erat. Suatu tahun karena gagal panen, sehingga terjadi bencana kelaparan, masyarakat bergejolak dan mengalami kekacauan.

Hari itu langit ditutupi oleh awan hitam, cuaca mendung dan sangat gelap. Setelah badai berlalu, di hati para penduduk merasa ada sejenis tanda buruk. Ternyata benar, sekelompok bandit mendadak menguasai Gunung Yiqiu, mulai merampok di empat penjuru, penduduk panik dan melarikan diri, oleh karena bencana kelaparan ini, sehingga membuat para bandit menjadi kehilangan akal sehat, bahkan juga terdengar kabar tentang manusia makan manusia.

Para bandit yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa dari rumah penduduk, merasa kesal sehingga menangkap orang, kebetulan yang mereka tangkap adalah Zhao Li.

Meskipun Zhao Li bertubuh kurus dan lemah, namun di wilayah yang terkena dampak bencana kelaparan yang paling parah ini, para bandit tidak sudi melepaskan Zhao Li, mengikatnya erat-erat pada sebatang pohon, lalu di sampingnya dinyalakan perapian, mulai merebus air, bersiap-siap menjadikan Zhao Li sebagai santapan pengganjal perut.

Sementara itu sang abang, Zhao Xiao yang beruntung bisa lolos dari sergapan bandit, malah tidak berhasil mencari adiknya. Hatinya begitu cemas, kemudian ada orang yang memberitahukan padanya bahwa Zhao Li ditangkap bandit. Mendengar kabar ini, hati Zhao Xiao pedih bagaikan tersayat pisau tajam. Dia berpikir : “Apa yang harus kulakukan? Jika terjadi sesuatu pada adik, bagaimana saya harus bertanggungjawab pada ayahbunda! Sebagai abang, bagaimana saya dapat hidup lagi di dunia ini?”  

“Meskipun harus mengorbankan nyawa sekalipun, saya tetap harus menyelamatkannya”. Berpikir sampai di sini, Zhao Xiao telah membulatkan tekadnya, mencari sarang bandit dan melakukan penyerangan.

Oleh karena hati Zhao Xiao tulus secara keseluruhan, maka dalam waktu singkat dia berhasil mencari sarang bandit, melihat adiknya diikat, bersamaan itu pula melihat ada satu panci besar yang berisi air mendidih. Zhao Li melihat kedatangan abangnya, mulanya merasa gembira, namun tiba-tiba dia berteriak menyalahkan abangnya : “Abang! Kamu mana boleh datang ke tempat ini! Bukankah ini berarti mati sia-sia?”

Saat itu Zhao Xiao juga tidak sempat mempedulikan ucapan adiknya lagi, segera menerjang ke arah para bandit, dengan isak tangis memohon : “Adikku adalah penderita penyakit, lagipula tubuhnya kurus dan lemah, dagingnya pasti tidak enak, mohon kalian bebaskan dia!”

Para bandit yang mendengarnya menjadi sangat garang, lalu berkata pada Zhao Xiao : “Jika melepaskan dirinya, apa yang harus kami makan?” Zhao Xiao mendengar pertanyaan bandit sedemikian, lalu dia segera menjawab : “Asalkan kalian melepaskan Zhao Li, saya sudi dimakan kalian, lagipula tubuh saya lebih sehat dan gendut”.  

Para bandit yang mendengar perkataan Zhao Xiao, sejenak mereka jadi bengong, mereka tak pernah berpikir di dunia ini ada juga orang yang datang mengantar kematiannya, mereka tercengang dan saling menatap satu sama lainnya.

Saat itu terdengar teriakkan Zhao Li : “Tidak bisa! Tidak boleh begitu!”. Salah satu bandit menjawab : “Mengapa tak boleh?”. Dengan isak tangis Zhao Li menjawab : “Yang ditangkap itu adalah diriku, dimakan kalian juga merupakan nasibku, tetapi ada dosa apa dengan abangku? Mana boleh membiarkannya mati sia-sia?”

Mendengar ucapan adiknya, Zhao Xiao segera menuju ke hadapan adiknya lalu saling berpelukan dan berebutan untuk mati. Para bandit yang sudah melakukan segala kejahatan, mendengar kedua bersaudara berebutan untuk mati, melihat jalinan persaudaraan yang berani mempertaruhkan nyawa, jadi diam seribu bahasa. Selama ini mereka telah menutupi hati nurani, kini hati nurani itu terbangun oleh adegan yang mengharukan tersebut, yang juga tak terhindarkan dari tetesan air mata. Akhirnya mereka melepaskan dua bersaudara itu.

Kemudian, kejadian ini tersebar hingga kepada kaisar, kaisar yang berkuasa saat itu merupakan kaisar yang beretika moral, bukan hanya menurunkan titah saja, bahkan mengangkat dua bersaudara menjadi pejabat, bahkan juga menyebarluaskan kebajikan mereka yang berhasil menggugah para bandit, supaya seluruh penduduk negeri dapat meniru dan belajar pada mereka.

Pepatah mengatakan : Abang adik bagaikan tangan dan kaki. Dengan mengamati situasi berbahaya saat itu, abang adik Zhao dapat saling mendahulukan keselamatan masing-masing, sama sekali tidak mempedulikan keselamatan sendiri, karena di dalam hati mereka amat jelas bahwa tubuh sendiri dan saudara lainnya merupakan salah satu bagian dari tubuh ayahbunda, memiliki hubungan darah dan lahir dari tubuh yang sama.

Lebih luas lagi mengamati dunia ini, meskipun makhluk hidup terdiri dari beragam jenis, sesungguhnya juga serupa dengan abang adik, saling memiliki kaitan. Maka itu, manusia jika ingin menikmati kehidupan bahagia yang berkepanjangan, maka harus memiliki hati yang bajik dan pengasih, mencintai seluruh umat manusia di muka bumi ini, segala hal dan semua makhluk, dan dasar dari hati yang bajik dan pengasih ini, serupa dengan yang tercantum di dalam Lun Yu (Analects) yakni : berbakti pada ayahbunda dan menghormati abang dan kakak, seharusnya merupakan dasar dari kebajikan. Ini merupakan kebenaran yang tak pernah berubah sejak jaman dahulu kala.





趙孝爭死

在漢朝的時候,有一個叫趙孝的人,字常平。他有一個弟弟叫趙禮,兄弟兩個人相處得十分友愛。

有一年,由於收成不好,糧食減產欠收,飢荒嚴重,社會治安也很混亂。

這一天,空中烏雲密佈,天色顯得十分昏暗。一陣狂風過後,人們的心頭仿佛都有一種不祥之兆。果然,一伙強盜突然佔據了宜秋山,開始四處搶掠,百姓們都慌忙逃命,因為在這種嚴重的飢荒災區,飢餓已經使強盜們失去了理性,甚至連吃人的事情也有所耳聞。

強盜們在老百姓的家中大肆搜尋一陣,見找不出多少食用的糧食和換錢的東西,一怒之下,他們就只好抓人,恰好把弟弟趙禮給捉走了。

趙禮雖然身體瘦弱,但是窮凶極惡的強盜們也不肯放過他,將他五花大綁捆起來後,係在一個樹上,然後在旁邊架起爐灶生起火來,開始燒水,準備拿趙禮來充飢。

哥哥趙孝雖然幸運地躲過了這一劫,卻找不到了弟弟。他心急如焚,四處打聽,得知有人親眼看見趙禮被強盜抓走了。

弟弟被掠走的消息讓趙孝心如刀割。他焦急地想:「我該怎麼辦?要是弟弟有個三長兩短,可怎麼對得起父母啊!我這個做哥哥的又怎麼能再活在這個世上?」「弟弟是同胞骨肉,哪怕賠上自己的性命,我也要救出他。」想到這裡,趙孝就下定了決心,尋著強盜撤離的方向奔了過去。

由於趙孝救弟弟心切,馬不停蹄,所以很快就趕到了強盜那裡,見到了被捆綁的弟弟,同時也看到旁邊有一鍋正呼呼冒著熱氣的開水。弟弟趙禮見哥哥來了,先是一陣驚喜,隨後馬上就哀嘆起來,埋怨哥哥說:「哥哥呀!您怎麼可以到這個地方來呀!這不是白白送死來了嗎?」

此時趙孝也顧不上與弟弟搭話,就沖到強盜的面前,哀求強盜說:「我弟弟是一個有病的人,而且身體也很瘦弱,他的肉一定不好吃,請你們放了他吧!」

強盜們一聽大怒,氣洶洶地對趙孝說:「放了他,我們吃什麼?」趙孝聽強盜這樣一問,就趕緊說:「只要你們放了趙禮,我願意用自己的身體給你們吃,況且我的身體很好,沒有病,還很胖。」

強盜們聽了趙孝的這番話,一下子都愣住了,他們沒想到天下還有這樣甘願送死的人,相互震驚地對視著。

這時,就聽見趙禮在旁邊大聲地喊:「不行!不可以那樣做的!」邊上一個強盜就向趙禮吼道:「為什麼不行?」趙禮哭著說:「被捉來的是我,被你們吃掉,這是我自己命裡注定的,可是哥哥他有什麼罪過呀?怎麼可以讓他去死呢?」聽罷此言,趙孝連忙撲到弟弟面前,兄弟相擁在一起互勸對方要讓自己去死,情急之下已是泣不成聲。

這些無惡不做的強盜們,聽著兄弟互相爭死的話語,望著手足之間捨身相救的場面,被深深震懾住了。他們那堅封已久的惻隱之心,被這人間真情真義的感人場面喚醒了,也都不免淌下了熱淚。旋即,他們無聲地放走了兄弟兩人。

後來,這件事輾轉傳到了皇帝那裡,皇帝是一個深明仁義道德之君,不僅下詔書,封了兄弟二人官職,而且把他們以德感化強盜的善行,昭示於天下,讓全國百姓傚彷學習。

俗話說:兄弟如手足。縱觀當時的危險境界,趙氏兄弟能夠首先顧及對方的安危,絲毫不顧個人的凶險,足見他們的心中已深深明白,自己的身體與弟兄的身體都是父母身體的一部分,同氣連枝,同體相生。

放眼世界,萬物雖有類聚群分,實則如兄弟一樣,互相之間休戚相關,同體相生。因此,人類要想擁有永久美好幸福的生活,就必須以仁愛之心,真誠地關心和愛護宇宙天地間的一切人,一切事和一切物,而這份仁愛之心的根本,正如古德在《論語》中所言:孝悌也者,其為仁之本與。這是亙古不變的真理。



Wang Dan Menjunjung Bakat



Cerita Budi Pekerti

Wang Dan Menjunjung Bakat

Wang Dan, nama kehormatannya adalah Zi-ming, merupakan perdana menteri tersohor pada masa Dinasti Song. Leluhurnya juga merupakan pejabat setia. Demikian pula dengan ayahnya, Wang You, juga merupakan pejabat tersohor. Jabatannya hingga mencapai Asisten Menteri Bidang Militer, memiliki moralitas yang tinggi, berpendidikan tinggi. Dia mengabdikan diri demi orang banyak, memberikan keadilan bagi terpidana yang masuk penjara akibat difitnah, hingga mencapai lebih kurang seribu orang, masyarakat mengatakan bahwa dia telah menimbun kebajikan tersembunyi untuk anak cucunya.

Wang Dan lahir di dalam keluarga pejabat yang bermoralitas tinggi, sejak kecil dia telah dididik oleh ayahnya dengan disiplin, dia begitu mengkagumi moralitas yang dimiliki oleh para insan suci dan bijak tempo dulu, etika moral yang dimiliki seniornya telah mempengaruhi kepribadian dirinya, meskipun usianya masih kecil telah menunjukkan karakter yang istimewa. Dia suka belajar, juga memiliki pandangan yang jauh. Maka itu Wang You sangat memandang berat pada putranya yang satu ini, berkata : “Anak ini kelak pasti akan menjabat sebagai perdana menteri”.   

Pada masa Kaisar Song Zhen-zong bertahta, Wang Dan menjabat sebagai perdana menteri, meskipun kedudukannya sangat tinggi, namun dia senantiasa bermawas diri, menangani segala urusan dengan seksama. Kaisar sangat memandang berat pada pejabat serupa ini, maka itu membiarkannya menjabat sebagai perdana menteri untuk kurun waktu yang lama, urusan negara baik kecil maupun besar juga dengan tenang diserahkan padanya. Suatu hari ketika Wang Dan usai menyampaikan laporan kepada kaisar, lalu pamit dan beranjak pergi, sepasang mata kaisar menatap kepergiannya, kaisar berkata : “Insan yang dapat membantu beta mewujudkan perdamaian, pasti adalah orang ini”.  

Pada saat itu di istana ada seorang pejabat lainnya yang bernama Kou Zhun (961-1023), orangnya setia dan lurus, juga merupakan tangan kanan kaisar. Tetapi begitu melihat Wang Dan memiliki posisi di atasnya, hatinya merasa ada sedikit tidak senang, merasa bahwa bakatnya tersia-siakan. Maka itu ketika dia bertemu kaisar, tanpa terasa perbincangannya akan menyinggung tentang Wang Dan, lagi pula sedikit banyak pembicaraannya ada mengandung fitnahan terhadap Wang Dan. Bahkan di dalam rapat, Kou Zhun pernah langsung menuding kesalahan Wang Dan, tentu saja kesalahan ini hanya menurut anggapan Kou Zhun saja, tetapi Wang Dan menerimanya dengan kerendahan hati, menganggapnya sebagai saran yang baik.

Sebaliknya, oleh karena Kou Zhun sebagai pejabat tinggi negara, selalu hati-hati dan teliti, mengerahkan segenap usaha untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri, menurut Wang Dan, Kou Zhun adalah pejabat yang setia, pantas memikul tanggung jawab yang berat. Maka itu setiap kali bertemu kaisar, Wang Dan khusus memuji kelebihan yang dimiliki Kou Zhun, menganggapnya sebagai sosok yang patut diteladani.

Kaisar Song Zhen-zong merasa sangat terkesima, suatu kali, ketika dia mengadakan perbincangan empat mata dengan Wang Dan, kaisar bertanya : “Anda sering memuji Kou Zhun, tetapi Kou Zhun malah suka menjelek-jelekkan diri anda, mengapa anda melakukan hal ini?”

Setelah mendengar hal ini, Wang Dan tersenyum lalu berkata : “Saya sudah menjabat perdana menteri untuk kurun waktu yang lama, kesalahan yang pernah kulakukan tentunya sudah terlalu banyak, tetapi karena kedudukanku tinggi, maka sebagian besar para pejabat tidak berani menunjukkan letak kesalahanku, sedangkan Kou Zhun dapat langsung menunjukkan kesalahanku, maka itu dapat dilihat betapa setia dan lurusnya dirinya, inilah alasan mengapa hamba memandang berat pada dirinya. Ada pejabat serupa ini, sesungguhnya merupakan berkah bagi negara, juga merupakan guru dan sahabat bijakku!”

Setelah mendengar ucapan Wang Dan, kaisar tidak mampu menahan diri lalu melepaskan tawanya, berkata : “Orang-orang pada bilang perut perdana menteri bisa memuat kapal besar, beta juga sependapat!”

Menjadi seorang perdana menteri, ucapannya lebih mendapat perhatian dari kaisar, maka itu banyak orang yang memohon bantuan Wang Dan untuk merekomendasikan insan berbakat untuk menjadi pejabat, namun Wang Dan tidak pernah berminat dengan permohonan ataupun bujukan yang bersifat pribadi.

Suatu hari Kou Zhun menemui Wang Dan secara pribadi, berharap agar Wang Dan bersedia merekomendasikan dirinya kepada kaisar supaya mengangkatnya jadi perdana menteri. Wang Dan amat terkejut mendengarnya, dengan tegas dia berkata : “Jabatan jenderal maupun perdana menteri, bagaimana bisa diperoleh dengan cara memohon?”

Kou Zhun mendengar jawaban Wang Dan sedemikian, merasa sangat malu, lalu pamit dan beranjak pergi, bersamaan itu pula dia juga khawatir dirinya tidak mungkin lagi berkesempatan menjadi perdana menteri.

Kemudian Kou Zhun diutus menjadi gubernur militer di Kabupaten Wusheng, dia merasa amat berterimakasih atas jabatan yang diperolehnya, lalu dia mengunjungi istana dan bertemu kaisar, airmata memenuhi pelupuk matanya, penuh rasa terimakasih dia berkata : “Andaikata bukan paduka memahami hamba, bagaimana mungkin hamba memiliki keberhasilan hari ini?”  

Kaisar sengaja memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya kepada Kou Zhun : “Anda dapat menjabat sebagai gubernur adalah rekomendasi dari Wang Dan”.

Setelah mendengarnya, Kou Zhun merasa sangat malu, menyesali hatinya tak selapang hati Wang Dan.

Wang Dan merupakan sosok yang tidak banyak bicara, namun diam-diam dia mengamati orang berbakat, dan takkan menyia-nyiakan bakat yang dimiliki orang lain, pasti akan merekomendasikan pada kaisar, lagipula dia tidak pernah minta imbalan atas jasa yang pernah diberikan, senantiasa melakukannya secara diam-diam.

Selanjutnya ketika pihak istana menyusun naskah Kaisar Song Zhen-zong dan bahan-bahan sejarah, mereka menemukan ternyata banyak pejabat berbakat seluruhnya adalah rekomendasi dari Wang Dan.

Kemudian Wang Dan jatuh sakit dan kritis, Kaisar Song Zhen-zong yang diliputi kekhawatiran bertanya padanya : “Kelak urusan besar negara harus dipikul siapa?”  Wang Dan menjawab dengan sepatah-patah : “Menurut pandangan hamba, yang paling sesuai tidak lain adalah Kou Zhun”. Tidak lama setelah Wang Dan wafat, Kaisar Song Zhen-zong mengangkat Kou Zhun menjadi perdana menteri.

Sepanjang hidupnya Wang Dan merupakan sosok yang setia dan juga berlapang hati, sungguh jarang ditemukan. Di dalam catatan riwayatnya ada tercantum bahwa : Biasanya di rumah, keluarganya tidak pernah melihat dia emosi. Suatu hari anggota keluarganya ingin mengujinya apakah benar dia memiliki pengendalian diri yang baik, lalu mereka menaburi sup nya dengan benda yang kotor.

Setelah melihatnya, Wang Dan juga tidak kesal, dia hanya makan nasi saja, juga tidak berkomentar. Ketika ditanya mengapa sup nya tidak diminum, dia menjawab : “Tiba-tiba saya tidak berselera makan daging”. Lalu anggota keluarganya menaruh benda yang kotor di atas nasinya, Wang Dan berkata : “Hari ini saya tidak berselera makan nasi, bolehkah menyajikan semangkok bubur buatku?” Keluarganya merasa salut padanya, pembinaan diri, pengendalian diri serta kelapangan hatinya.

Generasi selanjutnya menilainya sebagai : Wang Dan sangat berlapang hati, demi negara merekomendasi insan berbakat, dengan tulus mengabdi pada negara dan rakyat, merupakan pejabat setia. Tetapi dia selalu memuji orang lain sebagai pejabat setia, bahkan selalu melakukannya secara diam-diam, sehingga pihak lain tidak mengetahuinya, juga tidak meminta imbalan jasa pada orang lain, sungguh lapang hatinya!

Wang Dan juga merupakan sosok yang sangat bersahaja, saat usianya lanjut, ada orang yang bertanya padanya, mengapa anda tidak mengelola lahan pertanian dan harta kekayaan keluarga? Mengapa tidak mewariskan sedikit harta benda untuk anak cucu? Wang Dan menjawab : “Anak cucu seharusnya mandiri, andaikata ayahbunda mewariskan lahan pertanian dan kekayaan kepada mereka, maka ini hanya menciptakan perebutan diantara mereka”.

“Berbakti, persaudaraan, kesetiaan, dapat dipercaya, kesusilaan, kebenaran, kejujuran dan tahu malu” adalah Delapan Moralitas. Dan kenyataannya, andaikata salah satu butir moralitas tersebut berhasil diamalkan, maka delapan butir lainnya juga ikut terealisasi. Wang Dan telah berhasil mengamalkan kedelapan butir moralitas tersebut, sungguh sosok yang sempurna. Insan suci dan bijak tempo dulu, tiada yang bukan merupakan teladan bagi kita, kita patut belajar dan berusaha menirunya.   





王旦薦賢

王旦,字子明,是宋朝一位著名的宰相。

王旦的曾祖父、祖父都曾是當朝重臣。父親王祐,為宋太祖、太宗兩朝名臣,官至尚書兵部侍郎,道德隆重,學識淵博。他為天下百姓效命,曾經解救因冤獄被連坐的人,高達近千人左右,人們都說他為後代子孫積了許多陰德。王祐曾親手在他家亭前種植了三株槐蔭樹,並說道:「我們家後世為官者,必定有可以當到三公位置之人,此樹可以作為見證。」

王旦出生在這樣一個德范高超的仕宦之家,從小自然受到父親的嚴格教導,古聖先賢的德行令他敬慕,長輩的風範潛移默化了他,幼年他就顯得沈穩靜默、器宇非凡。他勤奮好學,並具博大深遠的胸襟。因此,王祐十分器重這個兒子,說道:「此兒定當位至公相。」人們見到少年王旦氣度不凡,稱他頗有乃父之風。

宋真宗時期,王旦擔任朝廷宰相之職,位高權重,但他朝夕惕勵,處理任何一件事都十分謹慎小心、細緻周到。皇上十分器重這樣一位盡職盡責的大臣,因此長期讓他擔任宰相,國家大小事情都特別放心交付他辦。有一次王旦奏事完畢退下,皇上目送他離去,情不自禁地說道:「能為朕致太平者,必是此人。」

當時朝廷還有一位大臣——寇准,剛直忠正,也是皇帝身邊的左右手。但寇准見王旦官職在自己之上,心裡有點不大服氣,隱隱約約感到自己屈才。所以他在見到皇上的時候,言語之間不知不覺就會提到王旦,而且不由自主地對王旦的言行有所詆毀。在朝廷之上,寇准也曾公開指責王旦的缺點,當然這缺點可能只是寇准自己認為的,但王旦全都虛心領納,可謂從善如流。

反過來,因為寇准作為國家重臣,兢兢業業,努力做好自己的本職工作,王旦認為寇准忠心耿耿,足堪當重責大任。因此,每次在皇上面前,王旦都專門稱贊寇準的優點,認為他是一個值得眾人學習的榜樣。

真宗覺得非常驚訝,有一次,他和王旦私人交談的時候,就問道:「你經常稱美寇准,寇准他卻數次說你的短處,你為什麼能這樣做呢?」

王旦聽了,微微一笑,說道:「我在相位已經這麼久了,缺失一定很多,但因職位較高,一般大臣都不敢指出我的缺點,而寇准能夠直陳我的不足,可見他是如何地忠貞直率,這也是臣下看重他的原因。有這樣的大臣,既是國家之福,也是我的良師益友啊!」

皇上聽了,不禁開懷大笑,說道:「人們都說宰相肚裡能橕船,我看你就是這樣一個宰相啊!」

做宰相的,說話份量比較重,因此有很多人輾轉拜託王旦薦舉人才或提拔新秀,王旦從來不接受任何私人形式的求情。有一次,寇准私下來找王旦,希望他能向皇上推薦自己當宰相。王旦很是震驚,義正詞嚴地對他說:「當將軍當宰相這樣的職位,怎麼可以去求得來?」寇准聽到王旦這樣的回答,感到非常慚愧,遺憾地告退了,同時也擔心自己或許再也無法當上相位了。

寇准後來被朝廷派官為武勝軍節度使、同中書門下平章事,寇准萬分感激皇上的知遇之恩,他入朝拜謝皇上,眼眶湧出淚水,激動地說:「如果不是陛下瞭解微臣,怎會有臣下的今天?」皇上特意把事實真相告訴寇准,他說:「你能當節度使,又能當同平章事,都是王旦為你推薦的。」

寇准聽說了這樣的內情,不禁非常羞愧,對王旦的正直寬宏自嘆不如。

王旦就是這樣一位稱職的大臣,雖然表面上不說什麼,但是私底下發現了真正的良才,就絕對不放過,一定會推薦給皇上,而且他施恩從不求回報,總是默默地做。後來朝廷整理宋真宗的遺稿與修訂史料時,他們無意發覺原來朝廷當中,有許多大臣,及眾多建功立業的棟梁之材,全部都是出自王旦的推薦。

後來,王旦病重之際,真宗懮心忡忡地問他:「將來朕該把天下大事托付給誰啊?」王旦勉強舉起奏事的板笏,一字一句地說:「以微臣的愚見,莫若寇准最為合適。」王旦病逝之後不久,真宗果然啟用寇准為相。

王旦一生忠正清廉,而且度量之大,實在少見。在傳記裡頭,有這樣的記載:平常在家,家人從來沒有見過他發怒。有一次家人要來考驗他是不是真正涵養好,就在他的肉羹湯裡撒了一些髒的東西。王旦看了也不生氣,他就只吃飯,也不講一句話。旁人就問他為什麼不喝湯,他就說:「我偶然有點不喜歡吃肉。」後來家人又在他飯裡頭給弄了一些髒東西,王旦就說:「我今天不喜歡吃飯,是不是可以另外做點粥?」家里人無不為他的修持,他的涵養包容而佩服得五體投地。

後人評價說:魏國公(王旦封號)德量恢弘,從容大度,為國家舉薦賢才,真誠地為國為民,是一個真正的忠臣。但他卻經常稱贊別人忠正,而且是不露痕跡地做,讓對方沒有感覺,也不會跟對方邀功,他的心胸、度量是何其地寬廣!

王旦也是一個非常廉潔之人,在他晚年的時候,有人問他:你為什麼不置田宅家產?為什麼不留經營給你的兒孫?王旦當時就講道:「兒孫當要自立自強,如果父母留下這些田宅財產給他們,無非就是要讓他們造成不義之爭而已。」

「孝、悌、忠、信、禮、義、廉、恥」這是八德。而事實上,如果其中一德做到了,八德也做到了。王旦是一個忠臣,也是一個八德具足,非常完美之人。的確,古聖先賢的點點滴滴,無不垂範後世,值得我們認真學習,努力傚彷啊!


Kemuliaan Zhuge Liang




Cerita Budi Pekerti

Kemuliaan Zhuge Liang

Zhuge Liang, nama kehormatannya adalah Kong Ming, merupakan seorang perdana menteri Kerajaan Shu Han pada periode Tiga Kerajaan (220-280). Kerajaan Shu Han adalah kerajaan yang didirikan oleh Liu Bei pada periode Tiga Kerajaan (Sam Kok). Pada akhir masa Dinasti Han berkuasa, dimana peperangan dan kekacauan terjadi, kemudian Liu Bei mengangkat dirinya sebagai raja dan mendirikan Kerajaan Shu Han. Liu Bei mengangkat Zhuge Liang sebagai perdana menteri, untuk menangani urusan militer.

Meskipun kedudukannya sebagai tangan kanan Liu Bei, namun Zhuge Liang selalu membedakan dengan jelas posisinya dan tahu diri, dia amat setia dan melakukan yang terbaik untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang pejabat, seluruh jasa yang diperolehnya dipersembahkannya kepada Liu Bei. Dia tidak pernah melangkahi Liu Bei. Dan Liu Bei sendiri juga memandang Zhuge Liang sebagai orang kepercayaannya dan sangat menghormatinya. Jalinan antara raja dan pejabat yang serupa ini, sungguh sulit ditemukan.

Pada musim semi tahun 223, Liu Bei jatuh sakit dan kritis, dia menitahkan agar Zhuge Liang segera pulang ke Chengdu, lalu menyampaikan pesan terakhirnya.  Liu Bei berkata : “Perdana Menteri memiliki bakat dan moralitas yang tinggi, bahkan melebih Cao Cao sepuluh kali lebih, anda pasti dapat menjayakan Bangsa Han (Bangsa Tionghoa), mensejahterakan negara. Bakat dan moralitas putra mahkota tidak mencukupi untuk mendukung negara, setelah dia bertahta, mohon perdana menteri mendukungnya. Andaikata dia dapat memahami bahwa Kerajaan Shu Han bukanlah mudah diperoleh, mau bekerja keras, maka mohon anda banyak membimbingnya. Andaikata dia tidak sudi bekerjasama, maka beta memohon padamu untuk mengambil kembali kekuasaan darinya, untuk selanjutnya nasib Dinasti Shu Han adalah tergantung pada anda bagaimana cara menanganinya”.

Keterangan :
Cao Cao (155-220) adalah negarawan terkemuka dan jenderal tersohor pada akhir masa Dinasti Han, pendiri dan raja pertama dari Kerajaan Cao Wei.

Zhuge Liang setelah mendengar ucapan Liu Bei, dengan isak tangis dia berkata : “Hamba selalu merenungkan budi paduka, meniru semangat ketulusan dan kesetiaan para insan suci dan bijak tempo dulu. Sepanjang hayat masih dikandung badan, hamba akan mengerahkan segenap kemampuan untuk mewujudkan seluruh pesan paduka, demi melayani negara dan rakyat, hamba takkan pernah berhenti hingga ajal menjemput”.

Liu Bei menurunkan titah memberi motivasi kepada putranya : “Urusan negara tak peduli besar maupun kecil, haruslah didiskusikan pada perdana menteri. Kesetiaan dan ketulusan perdana menteri kepada Kerajaan Shu han, bahkan langit dan bumi juga mengetahuinya. Kamu harus memandangnya sebagai ayahmu, menjunjung dan berbakti padanya”.  

Setelah putra Liu Bei bertahta, pada permulaan urusan negara baik besar maupun kecil, seluruhnya diputuskan oleh Zhuge Liang. Demi menunjukkan kesetiaannya pada kerajaan dan sikapnya yang tak pernah berubah, Zhuge Liang berkata dengan tulus kepada raja : “Rumah hamba ada di Chengdu, memiliki 800 batang Pohon Mulberry, 45 area persawahan. Keluargaku mengandalkan semua ini untuk mencari nafkah, dan bahkan sudah berkecukupan. Mengenai makanan dan kebutuhan para prajurit, dengan gaji yang diberikan oleh kerajaan, sudah mencukupi, hamba tidak perlu lagi mencari tambahan penghasilan apapun. Semoga suatu hari ketika ajal menjemput, takkan meninggalkan sandang maupun pangan yang berlebih, sehingga menyia-nyiakan budi mendalam dari istana dan perhatian yang paduka curahkan kepada beta”. Setelah Zhuge Liang wafat, ternyata benar, orang-orang menemukan di dalam rumahnya memang sedemikian.

Menjadi pejabat setia yang membantu menangani urusan negara, Zhuge Liang menetapkan undang-undang yang baik untuk Kerajaan Shu Han, menyusun barisan militer, mengembangkan perekonomian, menciptakan masyarakat yang aman dan sejahtera, memperkental budaya etika moral di dalam kehidupan bermasyarakat.

Saat urusan negara ditanganinya, pendidikan berkembang dengan jelas, hukum berkembang secara adil dan merata, namun bersih dan benar, tidak ada yang merasa tidak adil. Seluruh rakyat menjunjung kebajikannya, seluruhnya adalah berkat jasa perdana menteri yang adil tanpa ada kepentingan pribadi, dengan tulus mencintai rakyat. Saat Zhuge Liang memerintah, rakyat hidup dengan makmur, moralitas berkembang pesat.

Dalam memimpin pasukan militer, dia sangat jelas yang mana yang harus dihukum dan diberi penghargaan, ucapannya dapat dipercaya, juga sangat memahami jerih payah para prajurit, sehingga memperoleh perlindungan dan dukungan dari para prajurit, sehingga mereka merasa ikhlas mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan keutuhan bangsa.  

Dalam memimpin pasukan militer melakukan peperangan di luar, dia selalu mengutamakan kebenaran dan ada aturannya, di dalam sejarah tercatat meskipun dia membawa pasukan ke negeri orang lain, namun dia senantiasa memperlakukan rakyat negeri orang bagaikan rakyatnya sendiri. Maka itu di setiap tempat yang kedatangan pasukan militer yang dipimpin Zhuge Liang, takkan membuat para penduduk setempat menjadi khawatir dan ketakutan.

Pada saat Zhuge Liang berusia 54 tahun, dia menyeret tubuhnya yang digerogoti penyakit, dia tetap memimpin pertempuran melawan  pasukan prajurit Raja Sima Xuan, pertempuran berlangsung hingga lebih dari seratus hari lamanya, pada tahun yang sama bulan delapan Zhuge Liang menghembuskan nafas terakhir. Selama sakit-sakitan dia tak pernah istirahat, tetap mengurus segala urusan militer. Saat itu dia sudah tidak sanggup menelan makanan apapun, para prajurit yang melihat tubuhnya makin kurus, tidak mampu menahan linangan air mata, tidak tega melihat kondisinya.  

Setelah perdana menteri wafat, pasukan prajurit yang sedang berduka tidak boleh  terlena dalam kesedihan, Yang Yi segera mengambil alih memimpin pasukan militer Shu Han, Raja Sima Xuan pasti mengerahkan pasukan untuk menggempur Kerajaan Shu Han. Teriakkan pasukan prajurit Shu Han begitu bersemangat, mereka melangkah maju dengan berani, ibarat Zhuge Liang masih hidup dan memimpin mereka, akhirnya mereka memenangkan pertempuran, Raja Sima Xuan segera memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Sebelum meninggal dunia Zhuge Liang menulis surat wasiat yang berpesan agar jasadnya dikubur di Gunung Dingjun, Hanzhong. Kuburannya tak perlu terlalu besar, asalkan bisa menaruh satu peti mati sudah cukup, juga tidak perlu menggunakan benda apapun untuk dikubur sekalian dengan dirinya.

Setelah Zhuge Liang meninggal dunia, setiap tahun baru Imlek, masyarakat akan datang menyembahyanginya. Penduduk memperingatinya serupa dengan memperingati leluhur sendiri, mengingat dan mengenangnya.  

Pasukan militer Shu Han telah dibangun selama lebih dari 40 tahun lamanya, semua ini berkat dukungan dari Zhuge Liang, maka itu untuk mengenang jasanya, kerajaan membangun kuil untuk Zhuge Liang, seluruh penduduk berbondong-bondong menyembahyanginya.



  


孔明潔身

諸葛亮,字孔明,謚號「忠武侯」,是三國時期蜀漢的丞相。在漢朝末年的群雄征戰之中,劉備繼承漢統稱帝,建立了蜀漢,他任命諸葛亮為丞相,來統理軍國大政。

身為主上最為得力的輔佐,諸葛亮把自己身居次位的位置擺得很清楚。他極盡忠誠地完成為人臣子應盡的職分,所有的功勞都歸主上所有。縱使自己才識過人,也從未凌駕於君主之上。而劉備也視其為至為信任的股肱之臣,對他備極尊重。這種君臣間的知遇之交,可謂曠世少有。

章武三年春,先主劉備病情加重,他下詔把諸葛亮召回成都,對他交代了後事。劉備說:「丞相您的德能才略,高於曹丕十倍都不止,您必然能夠興復漢統、安定國家。皇子的才德並不足以持國,他繼位後,勞煩丞相您來輔佐他。如果他能夠體念我們蜀漢的天下,是多麼來之不易,還肯爭氣的話,您就對他多加教導。倘若他不肯振作,朕授予您廢除他的權力,到時候蜀漢的朝政,就由您來親自統領操持。」

諸葛亮聽到這些話,泣不成聲地說:「臣常念皇上浩浩恩典,常思傚法古來聖賢忠誠的志節。只要臣還活著一天,就一定會竭心盡力一心地效命、報效於朝廷,臣鞠躬盡瘁,死而後已。」劉備下詔誨勉他的兒子說:「國家大事無論大小,一定都要向丞相求教。丞相對我蜀漢天下的忠誠,是皇天后土所共知曉的。你要把他當成是自己的父親一樣,來尊崇和孝敬。」

後主即位之後,諸葛亮被封為「武鄉侯」,後來又兼任益州官,大大小小的政務都由諸葛亮來決斷。為表明自己對朝廷忠誠不二的志節,以及始終位居臣位的態度,諸葛亮曾經對後主懇切地說:「為臣的家裡在成都,有八百株桑樹、四十五頃的薄田。家人靠這些來生活,已經是綽綽有餘。至於臣出兵在外隨身的衣食用品,靠著朝廷的俸祿就足夠了,臣並不需要另外去籌措營生的產業,不需要為家裡添加任何的財產。希望有一天當臣過世之時,全家上下都不會留下任何多餘的衣食財物,而辜負了朝廷的深恩,與陛下的厚愛。」諸葛亮過世後,人們發現他的家裡果然是如此。

身為輔國的重臣,諸葛亮為蜀漢製定了完善的典章制度,他整飭軍隊,發展蜀漢經濟,強化社會治安,淳厚社會的道德風尚。在他當政的時期,對百姓的教化、政令行文都十分清楚明晰,法令嚴明而又合乎情理,政令峻切卻從未有人感到不平。蜀國上下之人都十分敬畏他的威德,凡此種種,無不歸功於丞相平等無私的愛民之誠。諸葛亮治理蜀漢的時候,百姓生活安定、物資充足,民風純樸厚道。他整肅了當時的朝政,給百姓以持之深遠的仁政與德教。

諸葛亮統帥軍隊賞罰分明,他法令嚴明、言出必信,而又非常體恤將士的勞苦,深得士兵們的擁護,使他們都願意為國家出生入死,甚至慷慨捐軀。他出戰在外無論是進與退都很有法度,用兵的時候,進退如風。出兵時軍威赫赫、氣度儼然。在歷史上,人們稱他帶兵「出入如賓」,縱使是在他國,也像是行走在自己的國土上,從未曾勞擾百姓。所以蜀國的軍隊出行,當地百姓也不會驚恐懮慮。

「功業飄零五丈原」,諸葛丞相五十四歲的那一年,他拖著病體,在五丈原和司馬宣王的軍隊一直相持了一百多天,其年八月諸葛亮溘然長逝。就在他病情很嚴重的時候,他仍然拖著虛弱的身體,夙興夜寐親自處理軍務。當時他已經吃不下什麼東西了,周圍的士卒見他日漸消瘦,都淚流滿面,不忍心再看下去。

丞相過世後,沈浸在悲慟之中的蜀軍秘不發喪,楊儀率領著軍隊整軍出行,宣王決定出兵追擊。蜀軍鼓聲大作,士兵奮勇地抗擊,就如同丞相生前統領著他們那樣,以赫赫的聲威,奮勇地拚殺在敵軍的面前。宣王被震住了,他不得不領兵撤退,但他無論如何都無法想到,諸葛丞相,早已長逝在軍旅之中。

「出師未捷身先死,長使英雄淚滿襟。」諸葛亮臨終前留下遺囑,讓後人把他安葬在漢中定軍山中。墓地不用太大,容得下一口棺材就夠了,也不要用任何的物品來陪葬。他臨終前出神入化的軍政部署,使得敵軍的首領宣王,也不得不由衷地佩服他是「天下的奇才」。諸葛亮過世之後,每逢年節人們都會自發地去祭拜他。百姓就像祭拜自己的祖先一樣,對他追思與緬懷。

蜀漢的國政得以奠立四十多年的基業,無不仰賴諸葛亮忠心耿耿的操持。朝廷感念他的德政與功勞,為他建立了祠堂,全國上下都去祭拜於他。鎮西將軍鍾會征伐蜀國,來到漢川的時候,也特別來到丞相祠堂去祭拜。他下令所有士卒,不許在丞相的墓旁放牧砍伐。威德的感化,連敵軍的首領也由衷地尊敬他。

《三國誌》的作者陳壽在任著作郎的時候,荀勖等人請他考定整理諸葛亮的遺著。一想到這位忠誠一生的老臣,在危難之時兢兢業業地輔弼國主,那忠勇的精神給予陳壽至深的感動。他細緻地整理遺稿,把它分成二十篇,記載在《三國誌》當中。諸葛亮留下的文集,點點滴滴記錄下許多頒令給臣民屬下的言辭,開誠佈公的心和孜孜不倦的教導躍然紙上。他留下的風範遺教,長久地化導著對他懷念至深的子民。

縱觀諸葛亮的一生,他在先主劉備過世之後,身為一國的宗臣,統理一國之政。總攬大權而又不失為國的禮度,堪為一國柱石。他事奉凡庸而又年幼的少主,兢兢業業恪守為臣的本分,未曾想要取而代之,他對後主所表白的心聲,至今讀起來仍令人對他的忠廉感懷萬千。

在《前出師表》中,諸葛亮曾經誠切地勸勉後主傚法堯舜,光耀先帝遺德,以承續長守不衰的平明之治。他強調前漢興盛的原因在於「親賢臣,遠小人」,後漢衰微的原因在於「親小人,遠賢臣」。因而應當謹言慎行,虛心接納忠臣的規勸。

孔子說:「雍也可使南面。」這是稱贊他的弟子冉雍的德行,能夠堪以重任,來治理一個國家。身為治世的良臣賢相,諸葛亮「受任於敗軍之際,奉命於危難之間」,在國家最艱困的時候,以為臣的忠義擔起了一國的重任。他兢兢業業,小心謹慎,唯恐有所閃失,而辜負了先主劉備的托付,辜負了他們以心相照的允諾。

同樣的,也正是這位真心相待的知己之主,纔鑄就了這樣一位忠心耿耿的義臣,為蜀漢的天下鞠躬盡瘁,耗盡最後的一滴心血。君臣之間知心之交,就如同皜月般地持久與真淳。

時隔數代,文天祥在《正氣歌》中,澎湃激昂地吟詠著「或為《出師表》,鬼神泣壯烈」,數百年、數千年後,多少人捧讀諸葛亮的《出師表》而淚落滿襟,這樣的忠義,這樣至誠,在世代中華子孫的血脈中傳湧。

「三顧頻煩天下計,兩朝開濟老臣心。」無論歷經過多少個朝代,每當人們漫步在肅穆的丞相祠堂中,沈痛地感懷追思丞相遺德之時,那句「臣鞠躬盡力,死而後已」不絕的餘音總縈繞在心懷……